Label

Minggu, 10 Juni 2012

ANALISIS KESALAHAN TATARAN MORFOLOGI, BIDANG FRASA, DAN PENERAPAN EYD PADA KARANGAN CERPEN SISWA SMA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi. Penggunaan bahasa sehari-hari tentu tidak luput dari yang namanya kesalahan. Baik itu disengaja maupun tidak disengaja. Kesalahan tersebut bervariasi. Mulai dari kesalahan dari tingkatan paling rendah yaitu fonem hingga tingkatan paling tinggi yaitu wacana. Meskipun sudah sering dipelajari, namun kesalahan tersbut tetaplah akan muncul juga. Kesalahan dalam penggunaan bahasa tidak luput juga dalam bidang pendidikan. Banyak hal dalam unsur pendidikan yang terkadang salah dalam penggunaan bahasa.
Kegiatan belajar mengajar yang setiap hari dilakukan oleh pendidik dan peserta didik pasti juga menggunakan bahasa sebagai sarana komunikasi. Sehingga bukan hal yang mustahil bagi mereka untuk membuat kesalahan. Salah satu kesalahan yang umum dalam pembelajaran adalah pada saat siswa membuat sebuah karangan. Karangan yang diumaksudkan disini bisa berupa paragraph deskripsi, narasi, eksposisi dan yang lain sebagainya. Namun yang akan kita bahas disini adalah khusus untuk paragaraf narasi yang berupa sebuah bentuk karya sastra, yaitu sebuah cerpen.
Cerpen merupakan sebuah hasil pemikiran seseorang yang berupa cerita mengenai kehidupan sehari-hari yang habis untuk sekali baca dan tidak bersambung. Cerpen sering menjadi bagian dalam kehidupan. Ban yak hal pula yang dapat diteladani dalam cerpen. Saking hebatnya cerpen, sampai-sampai hamper setiap surat kabar selalu memuat mengenai cerpen. Entah dimuat dalam kurun waktu setiap hari, mingguan, maupun bulanan.
Pembelajaran menulis cerpen yang dilakukan oleh siswa, pada umumnya akan berakhir dengan tugas mengarang sebuah cerpen. Cerpen-cerpen karangan siswa ini belum tentu semuanya mengunakan bahasa yang benar. Pasti terdapat beberapa kesalahan yang entah disadari  maupun tidak oleh siswa yang bersangkutan.
Analisis kesalahan berbahasa adalah penggunaan bahasa baik secara lisan maupun tertulis yangmenyimpang dari factor-faktor penentu berkomunikasi atau menyimpang dari norma kemasyarakatan dan menyimpang dari kaidah tata bahasa Indonesia (Setyawati,2010:13).  Penyebab kesalahan berbahasa menurut Setyawati (2010:15-16) pada umumnya dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu: (1) terpengaruh terhadap bahasa yang lebih dahulu dikuasainya, (2) kekurangpahaman pemakai bahasa terhadap bahasa yang dipakainya, (3) pengajaran bahsa yang kurang tepat atau kurang sempurna.
Adapun analisis kesalahan berbahasa yang akan kami bahas dalam karangan siswa diantaranya adalah  mengenai tataran morfologi, tataran sintaksis, dan EYD. Pengguna bahasa pada umunya sering melakukan kesalahan pada tataran-tataran tersebut. Sehingga kami rasa cukup tepat kami membahas kesalahan berbahasa pada karangan siswa pada tataran-tataran tersebut.
Melihat permasalahan yang begitu banyak imbasnya dalam pembelajaran ini, maka pentinglah penelitian ini kami lakukan. Karena peneltitian ini anantinya diharapkan akan mampu membantu para siswa untuk mengetahui mana penggunaan bahasa yang benar dan mana penggunaan bahasa yang salah. Maka dari itu  kami membuat peneltian dengan judul “Analisis Kesalahan Tataran Morfologi, Bidang Frasa, dan Penerapan EYD pada Karangan Siswa SMA”.




 

B.     RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut ini.
1.      Bagaimanakah analisis kesalahan tataran morfologi, bidang frasa, dan penerapan EYD pada karangan cerpen siswa SMA?
2.      Bagaimanakah evaluasi dari kesalahan tataran morfologi, bidang frasa, dan penerapan EYD pada karangan cerpen siswa SMA?

C.    TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut ini.
1.      Menganalisis kesalahan tataran morfologi, bidang frasa, dan penerapan EYD pada karangan cerpen siswa SMA.
2.      Mengevaluasi kesalahan tataran morfologi, bidang frasa, dan penerapan EYD pada karangan cerpen siswa SMA.

D.    MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang akan diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.      Manfaat teoritis
a.       Hasil pembahasan ini diharapkan dapat menambah dan mengembangkan wawasan ilmu pendidikan khususnya dalam analisis kesalahan berbahasa pada karangan siswa.
b.      Sebagai bahan untuk menambah khasanah pustaka dan sebagai salah satu acuan untuk makalah berikutnya.
2.      Manfaat praktis
Bagi pembaca penelitian ini diharapkan akan menambah wawasan dan pengetahuan akan analisis kesalahan pada tataran morfologi, bidang frasa, dan penerapan EYD pada karangan siswa SMA.




BAB II
PEMBAHASAN


A.    ANALISIS KESALAHAN TATARAN MORFOLOGI
Kesalahan pada bidnag morfologi menurut Setyawati (2010:49) dibagi menjadi (a) penghilangan afiks, (b) peluluhan bunyi, dan  (d) penyingkatan  morf.
1.      Penghilangan Afiks
a.       Penghilangan prefiks meng-
Contoh:
Kesalahan
Jangan anggap aku anak rajin kalau sering berangkat ke sekolah pagi-pagi. (kalimat pertama paragraf pertama cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu)
Pembetulan
Jangan menganggap aku anak rajin kalau sering berangkat ke sekolah pagi-pagi.
Kesalahan
Makin hari makin bengkak, saking rakusnya menghisap darah. (kalimat ketiga paragraf pertama cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Makin hari makin membengkak, saking rakusnya menghisap darah.
Kesalahan
Banyak wanita-wanita duduk-duduk santai sambil ngobrol. (kalimat keempat paragraf kesembilan cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).

Pembetulan
Banyak wanita-wanita duduk-duduk santai sambil mengobrol.
Kesalahan
Selain bisa membantu bapak, kadangkala aku juga dapat seseran dari orang-orang baik hati. (kalimat kedua paragraf keenam belas cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Selain bisa membantu bapak, kadangkala aku juga mendapat seseran dari orang-orang baik hati.
Kesalahan
Tanpa buang waktu, langsung kukerjakan perintah bapak. (kalimat kelima paragraf kesembilan belas cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Tanpa membuang waktu, langsung kukerjakan perintah bapak.
Kesalahan
Aha, malam ini, di bawah keremangan lampu, aku dapat ilmu tambahan. (kalimat ketiga paragraf keduapuluh dua cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Aha, malam ini, di bawah keremangan lampu, aku mendapat ilmu tambahan.

b.      Penghilangan prefiks ber-
Kesalahan
Kalau tak dituruti, siap-siaplah kena marah atau dipersulit di kemudian hari. (kalimat kelima paragraf kedua cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Kalau tak dituruti, bersiap-siaplah kena marah atau dipersulit di kemudian hari.
Kesalahan
Hampir tiap hari alas kakinya ganti-ganti. (kalimat keenam paragraf kelima cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Hampir tiap hari alas kakinya berganti-ganti.
Kesalahan
Aku tak pernah mengeluh meski terkadang kerja sampai larut malam. (kalimat pertama paragraf keenam belas cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Aku tak pernah mengeluh meski terkadang bekerja sampai larut malam.

2.      Peluluhan Bunyi
Kesalahan
Teman-temanku selalu menyemooh jika kuceritakan bahwa di luar sana banyak tempat bagus untuk menambah ilmu dan pengalaman.(kalimat pertama paragraf ketiga cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Teman-temanku selalu mencemooh jika kuceritakan bahwa di luar sana banyak tempat bagus untuk menambah ilmu dan pengalaman.

3.      Penyingkatan Morf
Kesalahan
"Pembelinya sudah mesan dari tadi," kata bapak.(kalimat ketiga paragraf kesembilan belas cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
"Pembelinya sudah memesan dari tadi," kata bapak.
Kesalahan
Tanpa buang waktu, langsung kukerjakan perintah bapak. (kalimat keempat paragraf kesembilan belas cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Tanpa membuang waktu, langsung kukerjakan perintah bapak.
Kesalahan
Dengan uang di kantong, lelah jadi tak terasa. (kalimat kelima paragraf kesembilan belas cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Dengan uang di kantong, lelah menjadi tak terasa.
Kesalahan
Aha, malam ini, di bawah keremangan lampu, aku dapat ilmu tambahan. (kalimat keempat paragraf kedua puluh dua cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Aha, malam ini, di bawah keremangan lampu, aku mendapat ilmu tambahan.
Kesalahan
Jika Senin lusa kuceritakan apa yang kulihat malam ini pada seisi kelas, apakah mereka percaya? (kalimat pertama paragraf kedua puluh tiga cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Jika Senin lusa kuceritakan apa yang kulihat malam ini kepada seisi kelas, apakah mereka percaya?
Kesalahan
Selain bisa membantu bapak, kadangkala aku juga dapat seseran dari orang-orang baik hati. (kalimat kedua paragraf keenam belas cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembenaran
Selain bisa membantu bapak, kadangkala aku juga mendapat seseran dari orang-orang baik hati.
Kesalahan
Takut kena marah kalau ketahuan celingak-celinguk. (kalimat keempat paragraf kedua belas cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Takut terkena marah kalau ketahuan celingak-celinguk.
Kesalahan
Banyak wanita-wanita duduk-duduk santai sambil ngobrol. (kalimat keempat paragraf kesembilan cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Banyak wanita-wanita duduk-duduk santai sambil mengobrol.
Kesalahan
Pantas bapak sering menasehati agar hati-hati bergaul di sekitar tempat ini. (kalimat ketujuh paragraf kedelapan cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Pantas bapak sering menasehati agar berhati-hati bergaul di sekitar tempat ini.
Kesalahan
Janjinya cuma dua tahun kerja di Malaysia. (kalimat keenam paragraf ketujuh cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Janjinya cuma dua tahun bekerja di Malaysia.

B.     ANALISIS KESALAHAN BIDANG FRASA
Kesalahan yang sering dijumpai dalam bahasa lisan maupun tulis.  Menurut Setyawati (2010: 76) kesalahan dalam bidang frasa dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain adalah : (a) pengaruh bahasa daerah, (b) penggunaan preposisi yang tidak tepat, (c) penggunaan unsure yang berlebihan, (d) penggunaan unsure superlative yang berlebihan, dan (e) penjamakan ganda. 
1.      Pengaruh bahasa daerah
Kesalahan
Kadang-kadang mereka tertawa ngakak kalau ada yang lucu menurut mereka. (kalimat keenam paragraf kesembilan cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Kadang-kadang mereka tertawa terbahak kalau ada yang lucu menurut mereka.
Kesalahan
Sebelum membawa tamu lelaki masuk ke wisma, losmen, atau karaoke, mbak-mbak itu memesan minuman ringan atau rokok. (kalimat pertama paragraf kesepuluh cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Sebelum membawa tamu lelaki masuk ke wisma, losmen, atau karaoke, para wanita itu memesan minuman ringan atau rokok.
Kesalahan
Takut kena marah kalau ketahuan celingak-celinguk. (kalimat keempat paragraf kedua belas cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Takut kena marah kalau ketahuan tengak-tengok.
Kesalahan
Tempat ini lebih semarak ketimbang hari-hari biasa. (kalimat empat paragraf kelima belas cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Tempat ini lebih semarak dari pada hari-hari biasa.
Kesalahan
Bapak tertawa ngakak waktu kuceritakan kejadian barusan. (kalimat pertama paragraf kedelapan belas cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Bapak tertawa terbahak waktu kuceritakan kejadian barusan.
Kesalahan
orang yang katanya harus digugu dan ditiru? (kalimat ketiga paragraf kedua puluh dua cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
orang yang katanya harus ditaati dan di contoh?
2.      Penggunaan preposisi yang tidak tepat
Tidak terdapat kesalahan penggunaan preposisi dalam cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu.
3.      Penggunaan unsur yang berlebihan
Tidak ditemukan kesalahan penggunaan unsure yang berlebihan dalam cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu.
4.      Penggunaan superlatif yang tidak tepat
Tidak ditemukan kesalahan penggunaan superlatif dalam cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu.
5.      Penjamakan ganda
Kesalahan
Berjejalan dengan bedeng-bedeng lainnya. (kalimat ketiga paragraf keenam cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Berjejalan dengan bedeng lainnya.
Kesalahan
Banyak wanita-wanita duduk-duduk santai sambil ngobrol. (kalimat keempat paragraf kesembilan cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Banyak wanita duduk-duduk santai sambil ngobrol.



C.    ANALISIS KESALAHAN PENERAPAN EYD
Ejaan didefinisikan sebagai kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk tulisan serta penggunaan tanda baca (KBBI dalam Setyawati, 2010: 155).
1.      Penulisan Huruf Kapital
Kesalahan
Ini malam minggu. (kalimat pertama paragraf kelima belas cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Ini malam Minggu.
Kesalahan
Sore tadi, bapak mengingatkan agar lepas magrib aku sudah membantunya di kios. (kalimat kedua paragraf kelima belas cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Sore tadi, bapak mengingatkan agar lepas Magrib aku sudah membantunya di kios.
Kesalahan
Tak kupedulikan wajah si bule yang kebingungan, tak paham obrolan kami. (kalimat ketiga belas paragraf ketujuh belas cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Tak kupedulikan wajah si Bule yang kebingungan, tak paham obrolan kami.
2.      Penulisan Huruf Miring
Kesalahan
Kadang-kadang mereka tertawa ngakak kalau ada yang lucu menurut mereka. Dandanan mereka menor-menor. (kalimat keenam paragraf kesembilan cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Kadang-kadang mereka tertawa  ngakak (harusnya ditulis miring) kalau ada yang lucu menurut mereka. Dandanan mereka menor-menor.
Kesalahan
Bukankah tempat ini tak layak untuk didatangi guru, orang yang katanya harus digugu dan ditiru? (kalimat kedua  paragraf kedua puluh dua cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Bukankah tempat ini tak layak untuk didatangi guru, orang yang katanya harus digugu dan ditiru (harusnya dicetak miring)?
3.      Penulisan ku-, kau-, mu-, dan nya-
Tidak ditemukan kesalahan penulisan ku-, mu-, kau-, dan nya- dalam cepen Sepasang Sepatu di Depan Pintu.
4.      Penulisan Preposisi
Tidak ditemukan kesalahan penulisan preposisi dalam cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu.
5.      Penulisan Partikel
6.      Tidak ditemukan kesalahan penulisan partikel dalam cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu.
7.      Penulisan Unsur Serapan
Tidak ditemukan kesalahan penulisan usnsur serapan dalam cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu.
8.      Penulisan Tanda Baca
Kesalahan
Rena(,) misalnya. (kalimat keempat  paragraf kelima cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Rena misalnya.



Kesalahan
Kurang ajarnya, dia menyuruh bapak menyusul jejaknya(,) mencari istri baru demi kebaikanku, anak semata wayangnya. (kalimat kedua belas paragraf ketujuh cerpen Sepasang Sepatu di Depan Pintu).
Pembetulan
Kurang ajarnya, dia menyuruh bapak menyusul jejaknya mencari istri baru demi kebaikanku, anak semata wayangnya.
















BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Kesalahan yang paling banyak dilakukan dalam karangan siswa adalah kesalahan bentuk morfologi, frase dan EYD. Namun kealahan yang lebih banyak kuantitiasnyadari ketiga kesalahan tersebut adalah kesalahan bentuk morfologi. Hal ini disebabkan karena tingkatan rumitnya bidang morfologi lebih tinggi dari pada frasa maupun EYD.
Bukan suatu hal yan aneh apabila banyak terjadi kesalahan dalam bidang ini. Apalagi aplikasi penulisan bahasa yang baik dan benar tidak selalu dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran setiap hari.
B.     Saran
Nothing is perfect except the only one, the creator of our lives, mungkin adalah suatu pernyataan yang tepat. Karena tidak ada yang sempurrna di dunia ini selain  Allah SWT. Oleh karena itu, kami menyadari bahwa makalah penelitian kesalahan berbahasa pada cerpen karangan siswa SMA ini jauh dari kata sempurna. Maka  kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca dan pengamat makalah ini.





DAFTAR PUSTAKA

Setyawati, Nanik. 2010. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia: Teori dan Praktik. Surakarta: Yuma Pustaka.

















LAMPIRAN

Sepasang Sepatu di Depan Pintu
Cerpen M. Arman AZ

Jangan anggap aku anak rajin kalau sering berangkat ke sekolah pagi-pagi. Apalagi menganggapku pintar, itu salah besar. Sesungguhnya aku bodoh, berotak bebal. Tiap tahun, lima ranking paling buncit di kelas, salah satunya pasti milikku. Jadi, kalau pun naik kelas, kupikir karena nasib baik saja.
Setelah lancar mengeja, menulis, menjumlah, dan cukup tahu sedikit tentang sejarah, tak ada lagi manfaat yang kupetik dari sekolah. Di mataku, gedung itu malah menyerupai lintah. Makin hari makin bengkak, saking rakusnya menghisap darah. Aku dipaksa membeli buku ini itu atau membayar biaya ini itu. Kalau tak dituruti, siap-siaplah kena marah atau dipersulit di kemudian hari.
Teman-temanku selalu menyemooh jika kuceritakan bahwa di luar sana banyak tempat bagus untuk menambah ilmu dan pengalaman. Mereka malah menganggapku sok pintar. Aku bahkan pernah disindir. Kata mereka, "Hei, Lela, kalo sudah bosen sekolah, kenapa masih datang kemari?" atau "Memangnya mau ngapain kalo nggak sekolah?!"
Aku murid perempuan yang bodoh. Tapi, itu penilaian guru dan teman-temanku. Mereka tak tahu bahwa aku adalah pengamat sepatu yang baik. Bukankah itu satu kelebihan tersendiri?
Entah sejak kapan aku punya kebiasaan aneh itu. Otakku cepat merekam berbagai jenis dan bentuk sepatu yang melintas di dekatku. Kadangkala, sifat seseorang bisa kutebak lewat sepatu yang dikenakannya. Rena, misalnya. Orang tuanya pasti borju. Hampir tiap hari alas kakinya ganti-ganti. Kalau kemarin cokelat, hari ini merah, besok tunggu saja warna apa lagi yang dipakainya. Ditambah lagaknya yang angkuh, tentu tebakanku jitu. Si Bengal Dodi lain lagi. Dia duduk di depanku. Sepatu sebelah kirinya sudah robek. Kaos kakinya coklat kumal. Jika angin berhembus, tercium aroma tengik dari bawah meja. Sementara, aku dan murid lainnya cuma punya sepasang sepatu yang harus kami rawat baik-baik untuk dikenakan setiap hari.
***
Kami, aku dan bapak, menghuni bedeng berdinding kayu. Letaknya masuk ke dalam gang dengan liku menyerupai labirin. Berjejalan dengan bedeng-bedeng lainnya. Bau busuk got mampat, aroma ikan asin digoreng, lalat hijau menari di atas gumpalan dahak, musik dangdut, kata-kata kasar, tangis bayi, jalan becek, genteng bocor di musim hujan, perkakas dapur beterbangan, adalah pemandangan biasa bagi kami. Kalau sudah garis tangan untuk melarat sampai berkarat, mau diapakan lagi?
Aku besar di lingkungan yang keras. Kawasan tempat tinggal kami tersohor sebagai kompleks pelacuran di kota ini. Ibarat akar pohon yang menancap kuat dalam tanah, julukan itu tak bisa dirobohkan lagi. Sama seperti rasa benciku pada ibu. Janjinya cuma dua tahun kerja di Malaysia. Begitu kontrak kerja sebagai TKW selesai, dia mau pulang. Membuka usaha kecil-kecilan dengan uang simpanan. Nyatanya ibu berdusta. Sampai sekarang dia tak pernah pulang. Malah dalam surat terakhirnya, ibu mengabarkan bahwa sudah kawin lagi di seberang sana. Kurang ajarnya, dia menyuruh bapak menyusul jejaknya, mencari istri baru demi kebaikanku, anak semata wayangnya. Ah, tahi kucing dengan ibu.
Meski ditinggalkan ibu, bapak tetap setia dengan kios kecilnya. Hasil dagangan dipakai untuk menyumpal perut kami, juga membayar biaya sekolahku. Aku sudah kelas enam SD. Kata tetangga, aku malah kelihatan seperti anak SMP. Penasaran dengan celetukan mereka, sekali waktu aku bercermin. Tubuhku memang bongsor. Sepasang bukit telah muncul di dadaku. Pinggangku juga ramping. Pantas bapak sering menasehati agar hati-hati bergaul di sekitar tempat ini.
Di depan gang, ada seruas jalan yang selalu ramai bila malam membentangkan layar. Di sana hingar-bingar, warna-warni, penuh tawa. Hampir di setiap rumah tergantung plang bertuliskan "Wisma", "Losmen", atau "Karaoke". Banyak wanita-wanita duduk-duduk santai sambil ngobrol. Tua muda. Cantik jelek. Kadang-kadang mereka tertawa ngakak kalau ada yang lucu menurut mereka. Dandanan mereka menor-menor. Aku pernah mencoba berdandan, meniru gaya mereka. Tapi, aku tak berani merokok seperti mereka. Bapak bisa menamparku kalau ketahuan merokok.
Sebelum membawa tamu lelaki masuk ke wisma, losmen, atau karaoke, mbak-mbak itu memesan minuman ringan atau rokok. Bapak tak bisa meninggalkan kios begitu saja. Jadi, tugaskulah untuk mengantar pesanan para tamu.
***
Aku duduk sendirian di pojok kelas. Teman-temanku menganggap siapa yang menghuni bangku belakang, kalau bukan anak badung pasti anak bodoh. Karena itulah, aku nyaris tak punya teman. Mereka kadang menghindar atau menatap curiga kalau aku mendekat.
Di sekolah tak diajarkan bagaimana membaca situasi dan memenangkannya. Teman-temanku tak tahu apa yang kulakukan di pojok kelas. Mereka hanya duduk rapi dan tegang menyimak pelajaran yang diberikan guru. Takut kena marah kalau ketahuan celingak-celinguk. Apalagi kalau tiba-tiba dipanggil ke depan kelas, dan ternyata tak bisa mengerjakan soal-soal di papan tulis. Wajah mereka mirip kerbau dungu saat berdiri dengan sebelah kaki terangkat.
Sepatu guru pun tak luput dari pengamatanku. Biasanya, ketika mereka berkeliling mengawasi ulangan, aku suka mencuri pandang ke arah sepatu mereka. Kuselidiki warna, bentuk, jenis, hingga perangai pemakainya. Nah, inilah yang membuatku heran. Dari dulu sampai sekarang, sepatu guru-guruku tak berubah. Ada yang kulitnya terkelupas. Ada yang dijahit berkali-kali. Bahkan ada yang sepatunya sudah tak muat lagi, tapi tetap saja dikenakan hingga jemari kakinya membayang jelas.
Apakah guru-guruku tak punya sepatu cadangan? Atau gaji mereka tak cukup untuk membeli sepatu baru?
***
Ini malam minggu. Malam yang panjang. Sore tadi, bapak mengingatkan agar lepas magrib aku sudah membantunya di kios. Tempat ini lebih semarak ketimbang hari-hari biasa. Ramai orang berarti ramai pembeli. Rokok, minuman ringan, bir, dan kacang kulit, pasti laku keras. Isi kios berkurang. Isi dompet bapak bertambah. Hidup terasa lebih ringan. Aku dan bapak bisa tersenyum sekejap.
Aku tak pernah mengeluh meski terkadang kerja sampai larut malam. Selain bisa membantu bapak, kadangkala aku juga dapat seseran dari orang-orang baik hati. Tapi mulai sekarang aku harus lebih waspada. Jangan sampai kecolongan seperti malam Minggu kemarin. Ada seorang lelaki mengelus pundak dan meremas bokongku. Dasar bajingan. Dipikirnya aku sama seperti mbak-mbak menor itu.
"Lela, cepat kemari!" Kulihat wajah bapak terang diguyur cahaya petromaks. Tangannya melambai ke arahku. Bergegas kuhampiri bapak. Aku membawa cerita bagus untuknya. Barusan tadi aku mengantar dua botol bir hitam, kacang, dan lima bungkus rokok ke salah satu rumah. Pembelinya orang bule, awak kapal yang siang tadi merapat di pelabuhan. Dia memberiku uang lima puluh ribu rupiah. Mbak Sari yang menggelendot di pinggang bule tinggi besar itu, mengedipkan matanya ke arahku. Dia bilang ambil saja kembaliannya untukku. Tentu saja aku girang. Buru-buru kutinggalkan mereka. Tak kupedulikan wajah si bule yang kebingungan, tak paham obrolan kami.
Bapak tertawa ngakak waktu kuceritakan kejadian barusan. "Hahaha, bagus Lela. Biar tahu rasa dia. Sekali-kali orang macam itu memang harus dikerjain. Masak, dari dulu sampai sekarang, kita dijajah terus-terusan sama mereka. Hahaha " .
Bapak menyodorkan plastik hitam padaku. Isinya dua botol air mineral dan sebungkus rokok. Aku harus mengantarnya ke rumah Tante Mila. "Pembelinya sudah mesan dari tadi," kata bapak. Tanpa buang waktu, langsung kukerjakan perintah bapak. Ini sudah keenam kali aku pulang balik mengantar pesanan. Dengan uang di kantong, lelah jadi tak terasa. Rumah yang kutuju seolah bisa dijangkau dengan sekali lompatan.
Aku terkejut melihat sepasang sepatu yang tergeletak serampangan di depan pintu. Sepatu kulit tua model kuno itu mengingatkanku pada sesuatu. Pelajaran matematika yang menjemukan dan gurunya yang menyebalkan. Ya, ya, Pak Songong, dia paling jago membentak dan menghukum murid yang tak bisa mengerjakan soal. Ia juga suka membelai-belai punggung murid wanita, dan mencuri pandang ke arah kancing atas murid wanita yang menunduk ketakutan di sebelahnya.
Aku yakin, sepatu ini milik Pak Songong, guru matematikaku. Aku hafal benar bentuk dan jenisnya. Warnanya cokelat tua, mirip sepatu koboi yang yang kulihat di film-film. Jika sedang menapak lantai, bunyinya klotak-klotak menyeramkan.
Apa yang dilakukan Pak Songong di sini? Bukankah tempat ini tak layak untuk didatangi guru, orang yang katanya harus digugu dan ditiru? Aha, malam ini, di bawah keremangan lampu, aku dapat ilmu tambahan. Moral seseorang tak bisa diukur dari jabatan atau gelar yang disandangnya.
Jika Senin lusa kuceritakan apa yang kulihat malam ini pada seisi kelas, apakah mereka percaya? Atau, lebih baik aku diam saja? Goblok! Buat apa berfikir sejauh itu?! Kalau pintu ini kuketuk, lalu wajah Pak Songong menyembul di muka pintu, dia pasti kaget bukan main, mengetahui pesanannya diantar muridnya. Apa yang akan dikatakannya? Apa yang harus kulakukan? Ah, kami pasti sama-sama malu.
***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar